Minggu, 08 Desember 2013

REFRAMING


Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu. Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.
Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu: "Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya. "Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi". Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu". Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb. "Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya "Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?" Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah. Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neuro Linguistic Programming). Dan teknik yang dipakainya di atas disebut REFRAMING, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Beberapa contoh pengubahan sudut pandang:
Saya BERSYUKUR;
  1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
  2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
  3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan.
  4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi.
  5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman.
  6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan.
  7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras.
  8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat.
  9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
  10. dst, dst, dst...
 ...
Tulisan di atas adalah hasil copas dari postingan salah seorang teman di FB. Hmm... Sebenarnya dalam Islam konsepnya sudah ada, yakni tentang pentingnya bersyukur. Kalau mau menghitung-hitung sebenarnya ada jauh lebih buanyak hal yang bisa kita syukuri daripada yang bisa kita keluhkan. Dengan bersyukur, hidup pun akan lebih bisa kita nikmati ^_^


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
--QS Ibrahim: 7--

5 komentar:

  1. ...dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah...
    Alhamdulillah...

    dan ingatlah "selalu ada sisi yang lain", tapi sayangnya nggak semua orang bisa mengubah sudut pandangnya dengan mudah. Karena konon katanya, hanya orang bijaklah yang bisa mengubah sudut pandangnya, melihat ke segala sisi.

    mmm, berarti oom Sam Enigma tuh orang yg bijak ya? hahaha... :p
    bagaimana kabar Sam-mu?
    Oia, warna tulisan di blog mu inih, bikin mataku cenat-cenut Ryz... :v

    BalasHapus
  2. kenapa bawa2 nama orang disini sist.. & hubungannya apa,, *bingung*

    Sam-ku so far baik2 saja, klo udh hari kerja gini ga overdosis koq, hehe.. tapi klo lg weekend & pas ga ada acara, wuooo.... (lanjutkan sendiri)

    Oia, warna tulisan ya? ada saran biar ga cenat-cenut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kapan2 bawa si sam donk, mau ngopy2 film :v
      warna tulisan? ah sudahlah, lupakan saja. Begini sudah bagus. Kemaren migrenku lagi kumat soalnya.
      Google plus-plus mu ituh Ryz, status terbaru (meski lawas juga hitungannya, udah satu bulan yang lalu :v): 'bogosipeunde' > bahasa Korea kan?

      "bogosipeunde", a word that would i say to you.. but...
      but... ah sudahlah, sebaiknya memang harus ditahan. .>.<.

      btw, yg komen pak boss, wakakaka :v
      Suruh nanya bu catur saja artinya apaan. :v

      Hapus
  3. Memang begitu, Sis. Sering juga ya kita bilang, "Aduh, seharian hujan terus nih! Mana cucian belum kering, kehabisan kaos kaki. Tiap keluar harus ganti baju kalo nggak mau masuk angin. Padahal hari ini agendanya banyak. Dingin lagi, jadi malas mau mandi pagi. Dst, dst. Kapan sih hujannya brenti??"
    Aduuh, jadi mulai sekarang nggak boleh gitu ya?! Coba tiap hari panas .... Pasti juga nggak enak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup yup, kata orang, "manusia gak pernah puas". musim hujan ngeluh, musim kemarau ngeluh juga..
      kemampuan bersyukurnya diuji terus nih.

      Hapus