Senin, 22 Oktober 2012

Alhamdulillah.. Aku Dimarahi

Kawan, pernahkah kalian dimarahi orangtua kalian?
Insya Allah hampir seluruh dari kalian akan menjawab "ya, pernah".

Lalu, apakah yang kalian rasakan ketika dimarahi orangtua? Sebel? Sedih? Menyesal? Atau apa?


Suatu saat aku mengalami hal tersebut, tepatnya dimarahi oleh ibuku (yang sejak bayi biasa kupanggil "mama"). Tapi marahnya Mama kali ini, kurasakan cukup berbeda.

Karena aku merasa.. sudah lama sekali tidak dimarahi Mama seperti ini. Hehehe... Waktu kecil sih sering. Sampai-sampai aku pernah merasa begitu bosan dimarahi, seakan-akan apapun yang kulakukan tetap mengundang kemarahan Mama (lebay!).
Namun kali ini kondisinya berbeda. Aku sudah beberapa lama tinggal di Solo dengan mbah dan pamanku. Sedangkan Mama terhitung jarang pulang dan menemaniku di sini. Tak hanya itu, komunikasi di antara kami praktis berkurang drastis. Hambatan muncul dari berbedanya operator simcard yang kami gunakan. Jadi, pikir-pikir dulu kalo mau ngobrol via telpon. Paling juga lewat SMS.

Malam itu, ketika Mama ada di rumah, ia memarahiku karena ketidakbecusanku mengelola uang yg beliau berikan. Aku sangat bisa merasakan kekecewaannya lewat kata-kata yang ia ucapkan. Sama sekali tidak dengan kata-kata kasar, tapi sangat cukup membuatku menyadari kesalahanku. Sesak rasanya,.
Aku diam mendengarkan, sambil mencoba mengendalikan emosi campur aduk dalam hatiku. Mataku mulai terasa panas..

"Tahan, Ryz. Jangan.. Jangan menangis,"
...
"Bukankah ini adalah hal yang harusnya kau syukuri? Coba kau hitung, sudah berapa lama kau tidak dimarahi seperti ini? Bersyukurlah.. karena Mama melakukannya karena ia sayang padamu, ia peduli padamu. Bersyukurlah.. karena Allah menegur kesalahanmu dengan sesuatu yang manis seperti ini,"
...
"Tak ada yang perlu dijawab. Karena aku merasa benar-benar salah."
...
Dan aku tetap mendengarkan dalam diam. Serta sekuat tenaga membendung air mata.

Malam semakin larut. Sepertinya Mama sudah lelah setelah cukup lama menumpahkan apa yang ia rasakan. Suasana pun hening untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Mama berkata, "Sudah malem, bobok gih."
"Mama?" tanyaku.
"Bentar lagi Mama nyusul,"
Tanpa bertanya lagi aku segera beranjak ke kamar, karena aku pun merasa letih. Ternyata menahan emosi ini membuatku lelah.

Tapi akhirnya, sebelum aku benar-benar bisa tidur, emosi (baca: air mata) yang sejak tadi kutahan, jebol juga. Antara menyesal, tapi bahagia. Dalam hati aku berjanji, sebisa mungkin berusaha tidak kembali melakukan kesalahan yang sama, tidak lagi melakukan suatu hal yang membuat Mama kecewa.


"Rabbighfirli waliwalidayna warhamhuma kama rabbayani shogira... Amin,."


*repost from id multiply, Nov 19, '09 8:10 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar